Skip to Content

SEJARAH MI SULTAN AGUNG 1 KALIPOH

MI Sultan Agung 1 Kalipoh berdiri atas inisiatif dari Bapak Ngalimi (Bapak Kimun) dan Bapak H. Yasirullah. Sebelum MI SA 1 Kalipoh berdiri, orang-orang Kalipoh bersekolah di luar kalipoh. Melihat kondisi tersebut Bapak Ngalimi dan Bapak H. Yasirullah tergerak untuk mendirikan sekolah formal, karena beliau berdua background-nya dari pesantren maka dikumpulkanlah santri-santri dari mereka berdua di rumah Bapak Basuki. pembelajarannya malam hari seperti santri pada umumnya, namun karena banyaknya santri yang terkumpul pada waktu itu, sehingga tidak muat ditampung dalam satu rumah, akhirnya santri-santri itu diklasifikasikan berdasarkan usia. Sehingga tempatnya pun terpisah-pisah ada yang di rumahnya Pak Basuki, Pak Sahri dan Pak Kaspari.

            Guru yang mengajar saat itu adalah pak Bahrudin, Pak Ngalimi (Pak Kimun) sebagai kepala sekolah, Pak Sahri, Pak Samsudin Baidowi, Pak Sakun (Dul Rohman) dari Argopeni,  Pak khoeroni (Pak Sadiman). Beberapa tahun kemudian datanglah seorang tokoh dari Kebumen seorang penjual gula yang kemudian menikah dengan orang Kalipioh beliau namanya Pak Kharis putra dari Bapak Hayat. Setelah beliau masuk berkembanglah madrasah dengan dibantu oleh para tokoh setempat untuk mendaftarkan madrasah mendapatkan surat ijin operasional tepatnya pada tahun 1957 sekaligus Pak Kharis ditunjuk sebagai kepala madrasah. Berhubung beliau asli orang Kebumen sehingga banyak kenalan dengan begitu madrasah Kalipoh dapat guru bantu yang sudah negri yaitu Pak Kholil dan Pak Rakim serta beberapa tahun kemudian Pak Toha.

            Seiring berjalannya waktu setelah mendapat ijin operasional, madrasah yang mulanya tempatnya terpisah-pisah di beberapa rumah tokoh akhirnya berkumpul menjadi satu tempat setelah pak Mad Mirsan memberikan atau mewakafkan sebidang tanah untuk dibangun sebuah sekolahan. Bangunan awal adalah tiangnya menggunakan kayu, temboknya pakai anyaman bambu dan atapnya pakai genteng jawa. Sekitar tahun 1970 an madrasah mengalami renovasi bangunan yaitu atas swadaya masyarakat sehingga bangunan madrasah sudah mulai ditembok. Pada waktu itu temboknya menggunakan batu kali, dengan campuran pasir krokos, kapur, semen merah (remukan batu bata merah). Tahun demi tahun bentuk bangunan madrasah terus berkembang tepatnya sekitar tahun 1990 an madrasah dibangun lebih permanen dan lebih indah seperti bentuk yang sekarang ada.

   Guru angkaant awal, adalah Pak Bahrudin, Pak Ngalimi (Pak Kimun) Pak Sahri, Pak Samsudin Baidowi, Pak Sakun (Dul Rohman), Pak Khoeroni (Pak Sadiman), dan Pak Kharis. Pak Kharis sendiri adalah yang menginisiasi untuk melegalkan madrasah yang dulunya bernama Madrasah Wajib Belajar (MWB) akhirnya menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI). Dulu MWB Kalipoh bernaung di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif dan berubah menjadi Sultan Agung sekitar tahun 1972 karena tahun 1971 ma’arif (NU) ikut partai politik sehingga lembaga pendidikan ma’arif bubar. MI Kalipoh yang diwakili oleh Pak Kharis berkoordinasi dengan pak Fadlun (DPR saat itu) dan Pak Fadlun berkoordinasi dengan pak Sahilan (ketua yayasan Sultan Agung) sehingga MI Kalipoh masuklah dalam naungan Yayasan Sultan Agung sampai sekarang.

Murid –murid generasi awal diantaranya adalah Bu Kunah, Bu katimah, Pak Tohar, Pak Dahlan, Pak Solam, Pak Yusup Bu Sainem, Bu Manis, Pak Bolot dan yang lainnya.

VIDEO ILUSTRASI